IPA DAN PERKEMBANGANNYA

A.     Ruang Lingkup IPA

Ilmu Alamiah (IA) sering disebut  Ilmu Pengetahuan Alam  (IPA) atau Ilmu  Kealaman  atau Natural Sains atau Sains

Ilmu Pengetahuan Alam atau juga sering disebut Kealaman Dasar merupakan Ilmu Pengetahuan yang hanya mengkaji tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial tentang gejala-gejala alam semesta. Ilmu alamiah mempunyai relativitas artinya kebenaran yang ditemukan oleh manusia pada suatu saat dapat disangkal (ditolak) atau diubah dengan kebenaran yang baru. Teori yang tidak cocok lagi dengan hasil-hasil pengamatan baru diganti dengan teori yang lebih memenuhi keperluan.

Ilmu pada hakekatnya terus mengalami perkembangan, Pembagian ilmu pengetahuan dapat dikelompokan sbb:

  • Ilmu pengetahuan alam (IPA)
  • Ilmu pengetahuan sosial (IPS)
  • Ilmu pengetahuan bumi dan antariksa (IPBA)

Ilmu pengetahuan pada hakekatnya adalah satu, pembagian atau pemisahan ilmu kareadanya perkembangan ilmu dalam proses yang cukup lama, tetapi dalam perkembangan lebih lanjut tampak adanya kecenderungan generalisasi dari beberapa cabang ilmu pengetahuan itu bertemu lagi. Misalnya dalam mempelajari  Biologi maka diperlukan dasar yang kuat dari Fisika dan kimia.

Peran Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia sangat penting. Hubungan ilmu pengetahuan dangan teknologi sangat erat. Negara-negara berkembang (Indonesia) termasuk negara konsumen , meskipun sumber daya alam sangat melimpah, namun karena Ilmu pengetahuan dan teknologi masih rendah sehingga menjadi negara miskin.

Negara- negara maju mempunyai tradisi mengembangkan Ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka telah menyediakan dana  2-3 % dari GNP untuk Ilmu pengetahuan dan teknologi, meskipun sumber daya alam sangat minim (Jepang) tetapi menjadi negara yang kaya.

Sasaran Ilmu Pengetahuan Alam adalah semesta dengan segala isinya, misal Ilmu Fisika memandang kesemuanya itu adalah materi dan energi. Yang dimaksud materi atau zat adalah apa saja yang mempunyai massa dan menempati suatu ruang, baik berupa padat, cair dan gas, sedang energi adalah sesuatu yang dapat memindahkan materi dari suatu tempat ke tempat lain.

Sebagaimana telah diketahui bahwa para ilmuan dalam penelaahan obyak selalu menggunakan metode ilmiah. Dalam penelaahan akan ditemukan kebenaran-kebenaran yang selanjutnya disusun secara sistematik sehingga mudah untuk dipelajari dan dipahami oleh orang lain, selanjutnya dapat dikembangkan. Mengenal atau mengetahui alam semesta dengan baik merupakan jerih payah para ilmuwan, Kejadian alam semesta ini tidak timbul dengan sendirinya tetapi terdapat keteraturan proses, sebab akibat yang saling keterkaitan. Dari keteraturan itu dapat dicari hukum alam (Natural Low) yang dapat menjawab rahasia alam.

Sehubungan dengan rasa keingintahuan manusia terus berkembang maka manusia menggunakan perpaduan antara rasionalisme dan imperisme yaitu metode pemecahan masalah secara keilmuan yang sekarag disebut ilmiah. Ilmu Alamiah (IA) sering disebut  Ilmu Pengetahuan Alam  (IPA) atau Ilmu  Kealaman  atau Natural Sains atau Sains. Ilmu Alamiah hanya mengkaji tentang gejala-gejala alam semesta sehingga terbentuk konsep dan prinsip. Ilmu Alamiah Dasar (Basic Natural Sciense) hanya mengkaji konsep- konsep  dasar yang esensial saja

Manusia bila dibanding dengan hewan maka tubuh manusia lemah. Gajah dapat mengangkat beban yang sangat berat, kuda dapat berlari sangat cepat. Mengingat manusia mempunyai akal dan budi serta kemauan yang sangat kuat. Sehingga manusia dapat mengangkat beban lebih berat dan berlari sangat cepat bila dibanding dengan gajah dan kuda yaitu, menusia dengan akal dan budi dapat menciptakan teknologi berupa mesin hidrolik dan pesawat jet.

Kuriositas atau rasa ingin tahu manusia terus berkembang. Hewan juga mempunyai rasa ingin tahu, tetapi didorong oleh naluri (insting). Naluri hewan bertitik tolak untuk dapat mempertahankan hidupnya, dan sifatnya tetap sepanjang tahun. Manusia disamping mempunyai kuriositas juga dilengkapi akal dan budi. Sehingga rasa ingin tahu dapat berkembang dan tidak pernah ada puasnya .

Untuk dapat memuaskan rasa ingin tahu (rahasia alam) manusia menggunakan pengamatan dan pengalaman serta menggunakan logika, maka akhirnya munculah pengetahuan.

Pengetahuan adalah kumpulan fakta-fakta . Tanggapan terhadap gejala-gejala alam merupakan suatu pengalaman. Pengalaman merupakan salah satu terbentuknya pengetahuan. Perkembangan pengetahuan karena didorong dua faktor  pertama untuk memuaskan diri guna memahami hakekat kebenaran  dan kedua untuk meningkatkan status (taraf hidup)

Dorongan pertama akan memperoleh pengetahuan murni (teroritis) dan dorongan kedua akan memperoleh pengetahuan praktis (aplikasi) atau ilmu terapan, ilmu alamiah merupakan kegiatan manusia yang bersifat dinamis, artinya kegiatan yang tiada henti. Dari hasil percobaan akan memperoleh konsep (teori) baru yang selanjutnya akan mendorong manusia untuk melakukan percobaan, demikian seterusnya.

Tujuan ilmu alamiah adalah untuk mencari kebenaran, menentukan fakta. Dalam hal ini hendaknya berhati-hati pada ‘’kebenaran’’. Kebenaran yang bersifat sementara dan yang bersifat mutlak .  Metode ilmiah tidak berhubungan dengan kebenaran mutlak, sesuatu yang mutlak berarti telah berakhir. Bila sesuatu telah diketahui mutlak maka ilmu alamiah tidak dapat diterapkan untuk bertindak lebih jauh. Ilmu alamiah hanya dapat mengemukakan bukti kebenaran sementara dan dengan kata lain untuk kebenaran sementara adalah ‘’teori’’. Dengan menggunakan metode ilmiah

Metode ilmiah adalah metode yang digunakan untuk memecahkan berbagai masalah secara ilmiah dengan menggunakan langkah ilmiah yang teratur, sistematis dan terkontrol.

Beberapa kegunaan ilmu  alamiah dalam kehidupan manusia antara lain:

  • Membantu memecahkan permasalahan dengan penalaran dan pembuktian yang memuaskan.
  • Menguji hasil penelitian orang lain sehingga diperoleh kebenaran yang objektif.
  • Memecahkan atau menemukan jawaban rahasia alam yang sebelumnya masih menjadi teka-teki.

 

1         Keterbatasan indera manusia

Kenyataan indera (panca indera) yang telah dimiliki manusia normal sangat terbatas, banyak hal-hal yang tidak dapat ditangkap dengan baik oleh indera.

Penglihatan, mata manusia normal tidak dapat memisahkan komponen-komponen warna atau melihat benda-benda yang berukuran kecil (mikro). Kisaran penglihatan juga sangat terbatas pada ukuran partikel yang dapat terlihat dan dapat melihat pada  jarak tertentu.

Pendengaran, telinga manusia cukup peka (sensitive) terhadap gelombang suara berfrekuensi antara 30-30.000 hertz per detik. Getaran (vibrasi) dibawah dan diatas frekuensi tersebut sangat sukar untuk dideteksi. Telinga manusia hanya dapat mengenali sejumlah suara terbatas yang timul secara serentak (simultan).

Pengecapan dan pembauan, lidah hanya dapat membedakan rasa manis, asin, masam, dan pahit saja. Sedangkan hidung dapat membedakan parfum atau bau-bauan yang lain.

Kulit manusia dapat merasakan panas dan dingin secara kasar (relatif). Manusia juga memiliki penginderaan dalam (deep sensibility) misal penginderaan otot dan sendi maupun penginderaan statis dan keseimbangan. Manusia mempunyai perbedaan yang sangat besar dalam memperkirakan berat, jarah dan arah antara satu dengan yang lain. Sering juga penginderaan menimbulkan kekeliruan informasi. Misal saat duduk dalam kereta api atau pesawat terbang, maka pohon-pohon berlarian menjauhi kita.

Untuk meningkatkan daya observasi atau penginderaan sehingga dapat diperoleh kebenaran antara lain :

a.       Melaksanakan latihan secara berulang-ulang dengan tujuan mengembangkan                 teknik dan kemampuan untuk melakukan penginderaan yang cermat dengan menggunakan berbagai instrumen yang berbeda.

b.       Kewaspadaan terhadap hasil penginderaan secara sungguh-sungguh meskipun hal-hal yang diangap kecil atau sepele.

c.       Instrumen yang akan digunakan sebaliknya dikaliberasi (dicoba) terlebih dahulu guna untuk membandingkan instrumen yang alin sekaligus untuk memperoleh hasil standart.

Pengecekan atau pengulangan pengamatan untuk menghindari kekeliruan dan dapat membetulkan atau melengkapi hasil yang telah diperoleh dari tiap-tiap pengamatan

 

2         Filsafat Ilmu Alamiah

Metode ilmiah adalah menetukan filsafat yang berfungsi sebagai dasar acuan ilmiah. Pengetahuan merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan mengenai hakekat pengetahuan/ Ilmi\u pengetahuan tidak hanya mempersoalkan teori belaka, juga berusaha untuk merumuskan sesuatu kebijakan hidup tertentu untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat tiga kelompok aliran dalam menentukan hakekat ilmu pengetahuan adalah sebagai berikut :

1.       Vitalisme, Ilmu alamiah pada awalnya masih bercampur dengan kepercayaan/mitos. Vitalisme adalah suatu doktrin yang menyatakan adanya kekuatan di luar alam yang memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatur sesuatu yang terjadi di alam.

2.       Mekanisme, mekanisme atau hukum alam yaitu suatu pandangan yang menyatakan bahwa sebagai penyebab semua gerakan di alam ini. Hukum alam dipandang sebagai eksperimental menurut ilmu alamiah.

3.       Agontisme, adalah aliran yang melepaskan diri dari kekuatan alam (Sang                          Pencipta).

Vitalisme menyatakan bahwa alam digerakkan atau dibimbing oleh  kekuatan di luar alam. Sedangkan mekanisme menyatakan bahwa alam bergerak          secara otomatis mengikuti hukum fisika dan kimia.

 

B.     Lahirnya Ilmu Pengetahuan

1.       Mitos

Salah satu sifat manusia adalah rasa keingintahuan terhadap kejadian-kejadian alam yang ada disekitarnya. Pada jaman dahulu manusia untuk dapat memecahkan masalah (menjawab rahasia alam) sesuai dengan kemampuannya, melakukan pengamatan dan pengalamnnya. Misal apakah pelangi itu, mengapa gunung meletus, mengapa terjadi gempa bumi. Mereka mencoba memberikan jawaban untuk dapat memuaskan dirinya dengan memberikan jawaban seperti pelangi adalah selendang bidadari, gunung meletus dan gempa bumi adalah yang kuasa sedang murka. Maka timbulah pengetahuan baru yaitu adanya bidadari, adanya yang kuasa. Tetapi jawaban sering tidak dapat menjelaskan dengan tuntas atau memuaskan, karena hampir setiap jawaban bersifat subyektif. Cerita atau penjelasan biasanya disampaikan melalui kesenian, upacara adat dan sebaginya.

Pengetahuan yang merupakan kombinasi antara pengalaman dan kepercayaan disebut mitos. Cerita mitos disebut legenda. Pada waktu itu mitos atau legenda dapat digunakan untuk memberikan arah atau pedoman terhadap sekelompok masyarakat sehingga  menjadi puas rasa keingintahunnya dan telah terjawab atas rahasia alam.

Pada jaman dahulu mitos atau legenda sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku manusia, bahkan sampai sekarang masih banyak yang percaya dan tidak berani menghilangkan. Menggunakan jawaban  atas masalah-masalah yang berkaitan dengan hal-hal yang goib disebut berfikir secara irasional atau tahap metafisika. Tentu saja pengetahuan atau jawaban yang irasional belum dapat dipertanggungjawabkan atas kebenarannya.

 

2.       Penalaran dekduktif (Rasionalisme)

Bagi sebagian manusia yang belum puas atas jawaban mitos terus berusaha atas pertanyaan-pertanyaan yang belum terungkap. Misal bilamana ”selendang bidadari datang”, kapan ”buta memakan bulan”. Dalam menghadapai peristiwa alam,  misal gunung meletus menimbulkan bencana dan kerusakan. Manusia berusaha mengamati, mempelajari dan mencari penyelesaiannya.

Manusia mencoba memikirkan menghubungkan atas kejadian satu dengan kejadian yang lain. Dengan menggunakan indera yang dimiliki, pemikiran dan pengetahuan manusia terus berkembang dan merupakan suatu proses. Berkat pengalaman yang sistematis dan kritis akan mengambil suatu kesimpulan. Pengambilan keputusan dapat didasarkan atas akal atau logika.

Penarikan kesimpulan yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum untuk kesimpulan khusus disebut deduktif. Penarikan kesimpulan secara deduktif yaitu menggunakan pola pikir yang dinamakan silogisme. Silogisme terdiri atas dua buah pernyataan dan satu buah kesimpulan. Kedua pernyataan tersebut dinamakan premis mayor dan primis minor,

Contoh :

Semua hewan bernapas             (Premis mayor)

Kucing adalah hewan                (Premis minor)

Jadi, kucing juga bernapas         (Kesimpulan)

Kesimpulan yang diambil tersebut benar jika primis yang digunakan benar, sebaliknya jika salah satu premis ada yang salah maka kesimpulan dapat salah

Contoh

Semua benda akan mati             (Premis mayor)

Batu adalah benda                     (Premis minor)

Jadi, butu akan mati                   (Kesimpulan)

Dengan demikian jelas bahwa penalaran deduktif harus dimulai dengan pernyataan yang sudah pasti kebenarannya. Namun dalam kenyataan untuk menilai kebenaran premis kemungkinan terdapat perbedaan. Disamping itu terkadang terdapat kesulitan untuk menerapkan konsep rasional kepada kehidupan praktis. Artinya tingkat penalaran manusia tidak sama

 

3.       Penalaran induktif (Empirisme)

Pengetahuan yang didasarkan atas penalaran deduktif memiliki kelemahan, maka muncul pandangan lain. Alam dan gejalanya adalah dapat ditangkap dengan indera yaitu atas dasar kenyataan (konkret). Perlu dipahami dalam pengamatan harus ada obyek yang jelas, dan harus bisa membedakan antara pendapat dan fakta. Penalaran haruslah dilakukan dari sesuatu yang sederhana ke yang lebih komplek.

Dalam pengamatan atau penyelidikan ada yang dapat ditirukan ada yang tidak dapat. Penyelidkan yang ditirukan adalah kegiatan dilaboratorium, sehingga akan memperoleh hasil yang lebih cepat, mungkin terdapat kesamaan karasteristik tertentu , pengulangan atau adanya keteraturan, sehingga dapat ditarik kesimpulan.

Penganut paham empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif yaitu menarik kesimpulan umum dari pengamatan khusus.

Contoh

Kerbau, sapi, kuda bernapas

Jadi semua hewan bernapas

 

Besi, aluminium, tembaga bila dipanasi bertambah

Jadi semua logam bila  dipanasi bertambah

 

Penalaran induktif dapat ditarik kesimpulan yang lebih umum dan makin bersifat fundamental. Dapat diperoleh prinsip-prinsip yang bersifat umum sehingga memudahkan  dalam memahami alam gejala alam beraneka ragam

Contoh

Kerbau, sapi, kuda bernapas

Jadi semua hewan bernapas

Jadi semua makhluk hidup bernapas

 

Besi, aluminium, tembaga bila dipanasi bertambah

Jadi semua logam bila  dipanasi bertambah

Jadi semua benda bila dipanasi bertambah

 

Namun demikian pada kenyataan bahwa pengetahuan yang didasarkan pada penalaran induktif juga masih ada kelemahan. Sekumpulan fakta belum tentu bersifat konsisten atau bahkan memiliki sifat kontradiktif. Demikian fakta yang nampak berkaitan  belum dapat dipastikan bahwa tersusunya pengetahuan yang sistematis. Faktor lain adalah kemampuan panca indera yang terbatas misal, jika melihat jalan yang lurus seolah-olah semakin sempit, tongkat lurus yang dicelupkan dalam air nampak bengkok.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s